Friday, August 19, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 174-176

Views :


Dahsyatnya Api Neraka Bagi Yahudi Penjual Agama
Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Jum’at Fajar yang diasuh langsung oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Jumat (19/08/16). Ada 3 ayat dalam surat al-Baqarah (174-176) yang dijelaskan KH Syaroni Ahmadi pada catatan edisi “Dahsyatnya Api Neraka Bagi Yahudi Penjual Agama” ini.
Ketiga ayat tersebut menerangkan tentang Balasan Yahudi Penjual Agama dan Kejahatan Yahudi Terhadap Al Qur’an. Berikut selengkapnya:
Surat Al-Baqarah 174 (Balasan Yahudi Penjual Agama)
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (174)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”
Ayat ini menerangkan tentang perilaku Yahudi. Orang Yahudi adalah orang kafir yang paling keras dalam memusuhi orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا (المائدة: 82)
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Q.S. Al Maidah : 82)
Orang-orang Yahudi merubah ayat-ayat dalam Taurat yang menerangkan tentang sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dalam kitabnya. Mereka melakukan hal demikian untuk mendapatkan pengaruh dari bawahannya yang ujung-ujungnya adalah untuk mendapatkan materi. Harta dunia yang mereka perebutkan disebut dalam Al Qur’an sebagai harga yang murah. Sedang “hasanah” dalam Al Qur’an atau Hadits artinya pahala itu harga paling rendahnya tidak kalah dengan dunia seisinya. Sebenarnya jika Yahudi mau mengikuti kandungan Taurat mereka akan beruntung, akan tetapi mereka lebih memilih dunia yang harganya sangat murah.
Harta dunia hasil dari “menjual agamanya” kelak di akhirat akan menjadi penyebab mereka masuk ke dalam api neraka. Allah SWT tidak akan berbicara kepada mereka karena murka dan mereka tetap berlumur dosa karena tidak disucikan oleh Allah SWT serta mendapat siksaan yang amat pedih.
Neraka yang paling ringan adalah neraka Jahanam yang panasnya lipat 70 dibanding api dunia. Bahkan diibaratkan apabila ada orang yang dimasukkan api dunia setelah merasakan panasnya api neraka Jahanam sebentar saja, maka ia akan tertidur pulas karena merasakan dinginnya api dunia. Dikisahkan awal penciptaan api dunia adalah ketika Siti Hawa butuh api untuk kebutuhan dapur dan lainnya, ia memohon kepada Allah untuk diturunkan api. Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk mengambilkannya dari api neraka. Oleh jibril diambillah sepotong api neraka sebesar buah kurma. “Jibril jika engkau mengambil api sebesar itu, maka langit akan terbakar” tegur Allah. “Ambillah sebesar biji kurma kemudian celup dulu ke dalam lautan.” Itulah api yang kita rasakan sekarang di dunia. Sehingga batu-batuan laut jika digesek besi baja akan memercikkan api.
Surat Al-Baqarah 175-176 (Kejahatan Yahudi Terhadap Al Qur’an)
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ (175) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (176)
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka. Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).”
Orang Yahudi menjual iman untuk mendapatkan kekufuran, menjual ampunan untuk mendapatkan siksa. Mereka nekat menghadapi siksaan api neraka. Allah telah menurunkan Al Qur’an dan Taurat dengan haq tidak untuk lelucon, tapi Yahudi menanggapinya dengan guyonan bahwa Al Qur’an dianggap sihir atau dianggap syiir. Mereka yang menganggap syiir dan sihir sudah menyimpang jauh dari tatanan agama dan kelak akan masuk dalam neraka. Beruntunglah kita umat Nabi Muhammad SAW yang mau beriman kepada Al Qur’an. Maka belajarlah agama dengan sungguh-sungguh supaya nafsu yang menjadi senjata setan dikendalikan oleh akal dan akal dipersenjatai ilmu. Ketika menang nafsunya akan masuk neraka dan jika menang akalnya akan masuk surga. Santri Abadi (smc-777)

Saturday, August 13, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 172-173

Views :
SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Jum’at Fajar yang diasuh langsung oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Jumat (12/08/16). Ada 2 ayat dalam surat al-Baqarah (172-173) yang dijelaskan KH Syaroni Ahmadi pada catatan edisi “Logika Sesat, Bangkai Lebih Halal dari Hewan Sembelihan” ini.
Kedua ayat tersebut menerangkan tentang Perintah makan makanan halal dan baik, Makanan yang diharamkan oleh Allah. Berikut selengkapnya:
Surat Al-Baqarah 172 (Perintah makan makanan halal dan baik)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (172)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
Bahasa yang sangat halus. Tanpa diperintah, manusia pasti akan tetap makan karena manusia itu dilengkapi nafsu. Ayat ini memerintahkan kita untuk makan makanan yang halal lagi baik. Walaupun halal tapi kalau tidak baik itu tidak boleh, sebagaimana makan durian mentah. Makan durian mentah itu halal tapi tidak enak. Tujuan makan dan minum agar badan kuat, setelah kuat bisa bersyukur dan beribadah kepada Allah. Karena manusia diciptakan untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات:56)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S. Adz Dzariyat : 56)
Ketika manusia tidak shalat, tidak zakat berarti mereka tidak bersyukur.
Surat Al-Baqarah 173 (Makanan yang diharamkan oleh Allah)

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173)
Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Lafadz “Innama” menurut ilmu balaghah mempunyai 3 makna:
  1. Hashr atau Qashr al Ifrad yaitu mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu ketika yang diajak bicara menyakini lebih dari satu. Contoh: ada nasi opor yang baru saja disajikan di meja makan tiba-tiba sudah habis. Yang menyajikan menyangka ada beberapa orang yang telah memakannya, kemudian orang yang mengetahui berkata: إنما أكله زيد Sesungguhnya hanya zaid yang telah memakannya. Contoh ini juga bisa digunakan untuk qashr al ta’yin.
  2. Hashr atau Qashr al Ta’yin yaitu mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu ketika yang diajak bicara menyakini satu yang tidak tertentu.
  3. Hashr atau Qashr al Qalb yaitu mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu ketika yang diajak bicara menyakini sebaliknya.
Lafadz “Innama” dalam ayat ini bermakna Qashr al Qalb bukan Qashr al Ta’yin atau Qashr al Ifrad. Ada beberapa orang yang mengarahkan “Innama” pada makna Ta’yin atau Ifrad sehingga membatasi makanan yang diharamkan hanya 4 macam yang disebutkan dalam ayat ini:
  1. bangkai
  2. darah
  3. daging babi
  4. hewan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah
selain 4 ini hukumnya halal. Pemaknaan seperti ini berbahaya karena bisa jadi makan batu, kayu halal hukumnya.
Pada lafadz “Innama” dalam ayat ini bermakna Qashr al Qalb adalah untuk menolak anggapan orang kafir yang menyatakan bahwa bangkai hewan itu lebih halal dari sembelihannya. Logika yang mereka pakai adalah bahwa hewan sembelihan itu yang mematikan adalah modin sedangkan bangkai yang mematikan adalah Allah. Sehingga mereka membuat kesimpulan sesat bahwa hewan yang dimatikan Allah itu lebih halal dari yang dimatikan manusia, karena Allah dengan manusia lebih utama Allah. Dengan turunnya ayat ini mempertegas hukum haramnya bangkai, sehingga bangkai diletakkan dalam urutan pertama makanan haram. Sedangkan yang disebut bangkai adalah hewan yang mati tidak melalui proses disembelih.
Darah (dideh) hukumnya haram sedangkan hati dan ampela hukumnya halal. Babi haram dikonsumsi baik daging, kulit, lemak atau organ lainnya, walaupun yang disebutkan dalam ayat ini hanya daging. Karena ayat ini mengikuti kebiasan manusia yang menyebutkan dagingnya saja.
Makanan haram berikutnya adalah hewan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah. Kebiasaan kafir Makah ketika menyembelih hewan mereka menyebut nama berhala Laata dan Uzza ”Bismillaata wal Uzza”. Adapun menyembelih hewan dengan menyebut nama Allah ”Bismillahirrahmanirrahim” hukumnya sunah, sedangkan menyembelih tidak menyebut apa-apa hukumnya makruh. Ada sebagian orang yang salah faham mengharamkan sembelihan untuk jamuan manaqiban, majlis al barzanji, tahlilan dengan dalih ayat ini. Pemahaman ini jelas tidak sesuai dengan peruntukan ayat, karena yang diharamkan adalah menyebut nama selain Allah saat menyembelih. Kecuali jika ketika menyembelih menyebut “Bismil Manaqib, Bismil Berjanjen” maka sembelihannya haram.
Dalam kondisi terpaksa atau darurat boleh memakan makanan haram tapi tidak boleh berlebihan. Secukupnya saja sesuai kebutuhannya. Sebagaimana ketika di hutan belantara tidak ada yang bisa dimakan kecuali bangkai kambing. Wallahu A’lam. Santri Abadi (smc-777)

Baca juga:
Ngaji Tafsir Jumat (05/08/16) Kisah Iblis dan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 169-171

Views :
SANTRIMENARA.COM, NGAJI TAFSIR – Di bawah ini adalah catatan kecil pengajian rutin Tafsir Al Qur’an Jum’at Fajar yang diasuh langsung oleh KH M Sya’roni Ahmadi Kudus di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus pada Jumat (05/08/2016). Ada 3 ayat dalam surat al-Baqarah (169-171) yang dijelaskan KH Syaroni Ahmadi pada catatan edisi “Kisah Iblis dan Syeikh Abdul Qadir” ini.
Ketiga ayat tersebut menerangkan tentang godaan nafsu, hukum mengikuti nenek moyang dan sifat orang kafir. Berikut selengkapnya, yang disusun oleh Ahmad Irham Anwari dari SantriMenara.Com. Insyallah redaksi akan konsisten mempublikasikan catatan pengajian rutin KH Syaroni Ahmadi setiap Jumat pagi di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Jika ketinggalan, Anda bisa mengikuti tiap edisinya dalam rubrik Ngaji Tafsir.
1. Surat Al-Baqarah 169 (Godaan Nafsu)
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ (169)
“Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak mengikuti langkah setan, karena setan adalah musuh bebuyutan manusia dan selalu mengajak berbuatan jahat dan keji mulai Nabi Adam sampai hari kiamat dengan cara yang halus.
Setiap bulan Ramadhan Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka dan membelenggu setan. Namun anehnya, bulan Ramadhan masih saja ada manusia yang berbuat maksiat. Setan memang dibelenggu di bulan Ramadhan tapi leluasa mengganggu di luar Ramadhan dan manusia diberi nafsu dan akal.
Ketika Allah telah menciptakan nafsu, Allah pun berfirman, “wahai nafsu, siapakah engkau, siapakah aku?” lalu tanpa sopan nafsu berkata, “aku adalah aku, engkau adalah engkau.” Setelah itu Allah memerintah malaikat untuk menghukum nafsu di neraka.
Kemudian Allah mengeluarkannya dan berfirman, “wahai nafsu, siapakah engkau, siapakah aku?” lalu nafsu menjawab sebagaimana sebelumnya, “Aku adalah aku, engkau adalah engkau.” Lalu memasukkan nafsu ke dalam neraka dan dilaparkan.
Kemudian Allah mengeluarkannya dan berfirman, “wahai nafsu, siapakah engkau, siapakah aku?” Nafsu berkata, “Engkau adalah Tuhanku, aku adalah hambamu.” Untuk meruntuhkan nafsu, umat Nabi Muhammad SAW diperintah berpuasa.
Berbeda dengan akal, ketika Allah telah menciptakan akal, Allah pun berfirman, “wahai akal, siapakah engkau, siapakah aku?” Akal menjawab, “aku adalah hambamu, engkau adalah Tuhanku.” Wajar jika satu kali ditanya akal langsung menjawab demikian karena Allah berfirman, “wahai akal, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih mulia dari pada engkau.”
Kemudian Allah memasukkan nafsu dan akal ke dalam diri manusia. Nafsu adalah sekutu setan dan akal temannya ilmu. Dalam Qasidah Burdah Imam Al Bushairy berpesan:
وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا ^ وَإِنْ هُمَا مَحَضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ
“Hindari dan lawanlah Nafsu dan setan. Bahkan ketika keduanya memberi nasehat tulus, tetaplah engkau curigai.”
Ketika kita menuruti nafsu maka tidak akan ada selesainya, sehingga nafsu harus disapih. Imam Al Bushairy berkata:
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ^ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَصِمِ
“Nafsu itu bagaikan anak kecil, kalau engkau biarkan sampai usia muda, dia tetap suka menyusu. Namun apabila kamu sapih makan akan berhenti.”
Setan juga mengajak kita untuk mengatakan sesuatu tanpa dasar ilmu, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Kita manusia akan mudah terbujuk godaan setan. Sekelas Sulthanul Awliya’ Syeikh Abdul Qadir al-Jailani juga tidak luput dari godaan Iblis.
Dikisahkan, suatu saat Syeikh Abdul Qadir al-Jailani sedang rajinnya menyendiri beribadah didatangi Iblis yang menyamar sebagai sosok guru tua. Syeikh Abdul Qadir bertanya, “ada keperluan apa mbah dan kamu itu siapa?” “Aku kesini ingin memberitahumu bahwa ibadahmu sudah lebih dari cukup,” jawab Iblis. “Aku adalah tuhanmu. Mulai saat ini telah aku bolehkan bagimu segala keharaman,” lanjutnya.
Dengan tegas Syeikh Abdul Qadir al-Jailani mengusir Iblis, “pergilah jauh-jauh wahai yang terlaknat!”. Seketika itu juga Iblis yang asalnya bercahaya menjadi gelap padam. Setelah lari menjauh, Iblis kembali menggoda lagi menemui Syeikh Abdul Qadir, “Abdul Qadir, kamu memang benar-benar alim. Telah banyak aku menyesatkan orang-orang hebat selain kamu.”
Maksud dari iblis berkata demikian biar Syeikh Abdul Qadir merasa paling alim. Dengan segera Syeikh Abdul Qadir menimpali, “saya bisa demikian itu karena diberi anugerah pengetahuan Allah SWT.” Santri yang mendengar cerita tersebut bertanya, “dari mana engkau tahu kalau dia itu setan?”, Syeikh Abdul Qadir menjawab, “dari perkataannya: telah aku bolehkan bagimu segala keharaman. Karena Allah SWT telah bersabda:
…إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ ….
“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” (Q.S. Al A’raf: 28)
2. Surat Al-Baqarah 170 (Mengikuti Nenek Moyang)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ (170)
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
Perbuatan kita saat ini ada yang cocok dengan nenek moyang kita dan ada yang tidak. Yang tidak boleh adalah mengikuti tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan dasar Al Qur’an dan hadits, sedangkan mengikuti tradisi nenek moyang dengan berdasar Al Qur’an dan hadits maka boleh kita lakukan.
Misalkan ketika kita punya hajat nikah, khitan dan hajat lainnya kita melaksanakannya dengan membagikan “bancaan” kepada tetangga sekitar, maka tradisi ini justru diperintah oleh agama. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat “bubur abang” lalu ditaruh di perempatan jalan.
Perintah berbagi kebahagiaan ini sejalan dengan perintah Nabi kepada orang yang sedang memasak untuk memperbanyak kuahnya dan berbagi kepada tetangga. Minimal kita berbagi kepada 4 orang, satu tetangga depan, satu belakang, satu kanan dan satu kiri rumah kita. Bagi yang mampu bisa menyempurnakan paling tidak 40 rumah. Sedang yang membuat bancaan ditaruh di perempatan jalan adalah temannya setan dan hukumnya haram. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Jika engkau masak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (H.R. Muslim)
3. Surat Al-Baqarah 171 (Sifat Orang Kafir)
وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ (171)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.
Orang kafir digambarkan seperti hewan yang tidak mengerti arti panggilan pengembalanya. Mereka tuli tidak mendengarkan hal yang haq (benar), bisu tidak pernah mengucapkan kebaikan, buta  tidak pernah melihat kebenaran dan tidak berakal tidak pernah mengerti pitutur. Semoga kita bisa menjaga nafsu kita sehingga mempunyai nafsu muthmainnah yang terhindar dari godaan setan. Santri Abadi. (smc-777)
Baca juga:
Ngaji Tafsir Jumat (12/08/16) Logika Sesat, Bangkai Lebih Halal Dari Hewan Sembelihan

Tuesday, August 2, 2016

KH. MUHAMMAD BIN SUBADAR TIDAK MENINGGAL

Views :
Kiai Mas Subadar tidak meninggal, keteladanan dan ketinggian akhlaknya akan selalu hidup di hati santri dan tidak akan habis digali meski nyawa sudah terpisah dari raga. Walau saya belum pernah talaqqy tapi saya persaksikan bahwa beliau adalah "ORANG YANG BAIK".

Sepenggal cerita dari teman abdi dalem PP. MUS Sarang ketika Kiai Mas Subadar silaturahim ke Sarang menemui putri dan menantunya KH. Said Abdurrohim. Kebetulan saat itu Kiai Said sedang tidak berada di dalem, oleh abdi dalem Kiai Mas Subadar dipersilakan untuk duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu abdi dalem mencari Kiai Said. Kiai Mas Subadar hanya mengiyakan dan berterima kasih sambil tetap berdiri menunggu. Sampai Kiai Said datang dan mempersilakan baru Kiai Subadar kerso duduk.

Perbincangan antara mertua dan menantu berlangsung dengan bahasa krama halus. Sekelas tokoh yang paling dihormati di Pasuruan bahkan di Jawa Timur tidak lantas menjadikannya merasa lebih tinggi dan lebih hebat dari Kiai Said.

Menurut keterangan dari Mukhlashon asal Pasuruan santri Kiai Mas Subadar yang saat sekarang sedang nyantri di PP. Yanbu'ul Qur'an Kudus menyebutkan bahwa Kiai Subadar sangat menyayangi cucunya Agus Muhammad Hasan putra Kiai Said Abdurrohim Sarang.

Al Karim Ibnul Karim Ibnul Karim Ibnul Karim Ibnul Karim Ibnul Karim Ibnul Karim dan seterusnya.
Muhammad bin Subadar bin Tasmien bin Tuan Ali bin R. Muhammad Sholih bin Nyai Jiroh binti Nyai Alfiyah Ilyas binti Simbah Mutamakkin bin S. Benowo bin Haryo Cokro Hadiningrat bin Joko Tingkir bin S. Mangkurat Mas Tegal Arum Mataram Sayyid Abdurrohman Ba'abud.

Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan semangat perjuangan tiada pernah surut dari dzurriyahnya. Amin Al Fatihah

Sunday, July 31, 2016

MENCARI MAKNA DAN BERKAH BULAN APIT, KAPIT, SELO ATAU DZUL QA’DAH

Views :


Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, begitu juga Syawwal akan segera berlalu. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang telah memanfaatkan kehadiran bulan-bulan tersebut dengan maksimal. Sehingga yang ada saat ini adalah rasa bahagia atas meningkatnya kualitas diri dan semangat baru untuk menata diri di bulan-bulan berikutnya. Karena hanya orang-orang yang beriman lah yang mampu memanfaatkan waktunya dengan penuh manfaat dan jauh dari kesia-siaan.
Syawwal akan berlalu, kini kita akan memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan Dzulqa’dah adalah bulan antara (ditengah) Syawal dan dzul Hijjah kata orang jawa antara syawal dan besar sehingga orang jawa menyebutnya dengan sebutan Apit. Ada juga yang menyebut bulan Kapit yang secara bahasa kapit berasal dari kata hafidz yang dalam bahasa arab berarti menjaga atau memelihara. Yang dimaksud di sini adalah menjaga atau memelihara kesucian bulan ini dari peperangan atau larangan lainnya. Karena di dalam alQur’an Kapit atau dzulqa’dah termasuk as Syahrul Haram, bulan suci dan mulia, selain dari rajab, dzulhijah, dan muharram. Namun orang Jawa biasa menyebut kata hafidz dengan sebutan kapit. Di sebagian daerah orang jawa juga menyebut dengan bulan Selo (kesesel barang olo atau kemasukan barang yang jelek).
Bulan Dzul Qo’dah yang biasa disebut orang jawa dengan sebutan bulan Selo ini, bukanlah bulan yang penuh dengan bencana (olo dalam bahasa jawa) tapi bulan penuh barokah, penuh dengan semangat untuk berbuat baik, sebab ada larangan khusus (QS. At-Taubah 36) untuk tidak berbuat dholim selama bulan-bulan mulia, termasuk pada bulan Dzul Qo’dah ini.
Kepercayaan orang jawa tersebut sangat dipengaruhi oleh pemaknaan bulan Dzul Qo’dah yang diartikan dengan bulan Selo yang diterjemahkan dengan bulan seselane olo (kejelekan). Padahal bulan selo itu ada kesalahan ucapan bila dikonotasikan dengan arti kata Qa’dah yang berasal dari kata Qa’ada yang artinya duduk, maka yang tepat adalah bulan Sila (duduk bersila, seperti kebiasaan orang yang berdzikir).
Bulan Dzul Qo’dah termasuk salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang mulia.” (Q.S. At Tawbah:36)
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Dari Abu Bakrah RA dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empa di antaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari bulan itu jatuh secara berurutan, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga syahrul mudhar) terletak di antara jumada dan sya’ban.”
Terdapat riwayat dari beberapa ulama Salaf bahwa mereka suka menunaikan umrah pada bulan Dzul Qa’dah. [Lathaa-iful Ma’aarif hal. 456] Akan tetapi, ini tidak menunjukkan bahwa umrah di bulan Dzul Qa’dah lebih utama dari pada umrah di bulan Ramadhan. Karena telah jelas dalil-dalil tentang besarnya keutamaan umrah di bulan Ramadhan sebagaimana yang telah dijelaskan. [lihat juga Zaadul Ma’aad II/95-96]
Di antara keistimewaan lain dari bulan Dzul Qa’dah, bahwa Allah SWT berjanji kepada Nabi Musa AS untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzul Qa’dah, ditambah sepuluh malam di bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. [Tafsir Ibni Katsir II/244] Sebagaimana firman Allah SWT:
وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ‌
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…” (Qs. al-A’raaf: 142)
Disebutkan dalam kitab “An-Nashaihud Diniyyah” karangan Al-Habib Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahwasanya :
1.      Puasa 1 hari di bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah, pahalanya setara dengan puasa 30 hari di luar bulan-bulan mulia. Dan puasa 1 hari di bulan Ramadhan setara dengan puasa 30 hari di bulan yang dimuliakan oleh Allah.
2.      Barangsiapa puasa 3 hari berturut-turut (kamis, jumat dan sabtu) di bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah, maka Allah akan menjauhkan orang tersebut dari siksa api neraka.

(Santri Abadi PP. MUS-YQ)

Friday, July 29, 2016

KHUTBAH BAHASA JAWA: ANCAMAN DAYYUTS

Views :
KHUTBAH PERTAMA
 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ اَلَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِعْمَةَ وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدِ وعَلى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ فى انحاء البلاد. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً أمَّا بعْدُ

فَيَآعِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فاتقوا الله فيما ائتَمَنَكم من الأزواج الأولاد فإنكم عنهم مسئولون. أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jum’ah ingkang dipun rahmati Allah
Mangga kita sesarengan tansah netepi ajrih lan taqwa dateng Allah, kanti tansah netepi lan nuhoni dateng sedaya perintah lan dawuh dawuhipun, saha nebihi sedaya awisanipun. Ampun ngantos kumawantun nilar kwajiban lan nglirwaaken dawuh dawuhipun Allah, lan ugi ampun ngantos kumo wanton nerjang awisanipun Allah. Wonten ing kawontenan kados menapa kemawon, tansah netepana taqwa lan ajrih dateng Allah, supados kita tansah pikantuk rahmat lan kanugerahan, kebahagyaan gesang saking ngarsa Dalem Allah Ta’ala, wiwit ing dunya ngantos dumugining akherat, Amiin.
Para sederek Kaum Muslimin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Gebyaripun wulan Ramadlan lan Idul Fitri sampun kita lewati sareng-sareng. Kumandang tadarus Al Qur’an, takbir, sami ngapuro-ngapuronan, silaturrahim, lan ngalor ngidul sami ngagem rasukan ingkang sopan tur nutup aurat. Dereng ngantos telas wulanipun syawal kita sedoyo sampun wangsul maleh marang kemaksiatan-kemaksiatan kita piyambak-piyambak. Al Qur’an sampun jarang kita wahos, kaleh sesami sederek Islam sami ungkur-ungkuran, mbucal omongan fitnah, tukar padu, musuh-musuhan lan ngumbar aurat kados hal ingkang lumrah kita lampahi. Labetipun wulan Ramadlan lan syawal kados namun labet sesaat. Padahal, sakyektosipun Ramadlan punika minangka wulan latihan, wulan syawal punika wulan kita miwiti perjuangan andandani lampah kita ingkang awon, sehingga wulan sak lajengipun kita saget ningkataken amal.
Kaum muslimin jama’ah Jum’ah ingkang dipun rahmati Allah
Lelampahan dosa punika mboten namung nerjang dateng awisan-awisanipun Allah utawi nilar dateng perintah-perintahipun Allah. Ananging mendel lan ridlo dateng kemaksiatan ugi kalebet dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampun paring dawuh:
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ
“Tigo golongan manusia ingkang Allah haramaken melebet surga inggih punika pecandu khamer, tiyang ingkang durhaka dateng tiyang sepah kaleh lan ad-dayyuts inggih punika kepala rumah tangga ingkang mendel dateng tindakan ingkang mengarah dateng zina ing ndalem keluarganipun.” (HR. Ahmad).
Wonten ing hadits menika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paring peringatan tegas bilih Allah ‘Azza wa Jalla ngaramaken surga kagem tigo golongan manusia. Ing antawisipun punika ad-dayuts inggih punika kepala rumah tangga ingkang mendel ngejarake tindakan awon ing dalem keluarga, khususipun keawonan ingkang ngarah dateng perzinaan. Kados pergaulan bebas, ngumbar aurat, ikhtilath (campur baur) antawis tiyang jaler lan wadon ingkang mboten mahram lan sanes-sanesipun. Sedoyo kolo wohu kados sampun dados hal ingkang lumrah lan ugi rumahos mboten dados setunggaling cacat utawi cela kagem piyambake minangka pemimpin keluarga ingkang sak mangke ing dinten kiamat bakal disuwun pertanggungjawaban ing ngarsaning gusti Allah SWT.
Wonten hadits lentunipun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paring sabda :
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَالدَّيُّوثُ
“Tigo golongan manusia ingkang Allah ‘Azza wa Jalla mboten kerso mirsani ing dinten kiamat, inggih punika tiyang ingkang durhaka dateng tiyang sepah kalehipun, tiyang istri ingkang dandan lan nyerupani kados tiyang jaler lan ad-daiyuts.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan al-Hakim).
Wonten ing kekalih hadits menika, ketingal gamblang bilih kepala rumah tangga kenging resiko ageng kaaling-alingan mlebet suwarganipun Allah. Bahkan saat ngadepi pakewuhing akhirat, Allah SWT mboten kerso mirsani kalayan peningal welas. Sedoyo wohu sebab tiyang jaler mboten tegas lan ketingal ringkeh mboten gadah doyo ing dalem babakan ngemutaken garwo lan putra putrine.
Mekatenlah tiyang jaler minangka kepala rumah tangga gadah peran ingkang ageng sanget ing dalem mbentuk kepribadian garwa lan putra putrine, nopo niku aqidah, ibadah utawi akhlaq. Minangka kaluputan ingkang mboten alit menawi kepala rumah tangga ngejarake garwa lan anak wadone ngumbar aurat ing ndalan ndalan, ngejarake mboten ngagem jilbab, utawi ngagem jilbab ananging nyandang busono ingkang sempit, ketat sehingga ngetingalake bentuk lekuk tubuh sehingga dados tontonan ingkang mboten sahe, dados sasaran zina mata lan saget mancing niat ingkang awon saking tiyang tiyang jaler ingkang manahe gadah penyakit nifaq. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampun paring dawuh:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Kaleh golongan menuso penduduk neraka ingkang dereng nate kulo persani, yaiku sijining kaum ingkang mbeto pecut kados buntut sapi ingkang kelawan pecut menika sami mecuti menuso lan sijining kaum wanita ingkang ngagem busana, ananging wudho, mlaku lenggak lenggok kaleh miringake pundake ugi nambahaken aksesoris ing sirahe kados punuk unta supados dados pusat perhatian, kaum kados mekaten mboten mlebet surga lan mboten bade ngambung gandane suwargo, padahal gandane surga punika saget digondo saking jarak sementen lan sementen.” (HR. Ahmad dan Muslim).
Diparil umpami kepala keluarga punika saget mlebet ing swargo, punapa piyambake lilo lan tegel mirsani garwani ingkang banget ditresnani, anak-anake sing paling disayangi dados penduduk neraka, pisah saking piyambake, bahkan ngambung gandane surga mawon mboten saget?
Lajeng pripun tanggungjawab ipun minangka kepala rumah tangga? Punapa saget angsal kabekjan menawi piyambake nyiak-nyiaake ladang amal ingkang paling caket? Jawabe temtu mboten saget.
Menawi ngejarke mboten ngemutaken kemungkaran mawon di hukumi daiyuts lajeng pripun menawi kepala rumah tangga numbasake rasukan ingkang ngumbar aurat utawi bahkan perintah keluargane supados nglampahi maksiat arupi mbuka aurat. na’uudzubillah min dzalik. Punapa piyambake mboten nate mireng dawuhipun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Sinten tiyang ingkang ngajak miderek pituduhe Allah ‘Azza wa Jalla, mongko piyambake angsal ganjaran kados ganjarane tiyang-tiyang miderek dateng pengajake, tanpa ngurangi kedik mawon ganjarane tiyang kala wohu. Sinten tiyang ingkang ngajak tumindak sesat, mongko piyambake angsal dosa kados dosane tiyang-tiyang miderek dateng pengajake, tanpa ngurangi kedik mawon dosane tiyang kala wohu.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Pundi ingkang kita pilih kagem kita piyambak? Enggal-enggal ngajak kesahenan? punopo justeru tanpa sadar njerumusake putra putri kita ingkang minangka aset utawi celengan ingkang mboten kaetang regine? Kanti ngejarake garwa lan putra putri kita tanpa paring arah utawi paring fasilitas gadget, game kekerasan, tayangan sinetron, lagu-lagu umbar nefsu dados gurune tanpa pengawasan lan pengarahan saking kita.
Tanpa pembinaan ingkang sahe, tangeh lamun putra putri kita saget dados putra-putri ingkang sholeh lan sholehah. Tiyang sepah ingkang nandur, tiyang sepah ugi ingkang ngunduh hasile. Nandur sahe bakal ngunduh sahe, nandur awon ugi sak mangke bakal ngunduh awon. Pakulinan anak nglampahi maksiat namung nambah-nambahi dosa-dosa kita, bahkan dados aib tiyang sepuh wekdal taksih sugeng utawi sakmangke menawi kita sampun tilar dunyo.
Tiyang sepah pundi ingkang tego ngejarake lan nilarake anak-anake sibuk dolanan nalikane wonten kebakaran? Temtu nurani tiyang sepah ingkang taksih sehat mboten lilo menawi putrane kobong geni dunyo, nopo maleh genineng neraka ingkang panase tikel matikel.
Mugi mugi kita sedoyo angsal taufik pitulung saking Allah anggen kita ngrumat lan ngramut putra-putri kita utamine anak wadon kanti sabar, sehingga kita saget nikmati hasil ipun ing wekdal sepuh kita utawi wekdal kita sampun ninggalake dunyo. Amin.
بسم الله الرحمن الرحيم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِما فيه من الآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً .أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي ابن أبي طالب, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ الْمُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغلاء واْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والفحشاء وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فاذكروا اللهَ العظيم يذكرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم، واسألوه من فضله يعطكم ولذِكْرُ اللهِ أكبرُ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون
 

Tuesday, July 26, 2016

KH. MA'RUF IRSYAD DAN AMANAH PINJAMAN SEPEDA OTHEL

Views :
yai-ma'ruf-irsyadAda empat madrasah di Kudus yang hanya menerima khusus siswa atau khusus siswi. Madrasah TBS dan Qudsiyyah seluruh siswanya laki-laki, sementara Madrasah Banat dan Mu’allimat hanya menerima siswi, santri menara perempuan.
Betul memang, kewajiban menuntut ilmu tidak hanya bagi laki-laki maupun perempuan saja, namun dalam rangka mencegah ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan), empat madrasah dengan pelajar berjumlah ribuan itu, memiliki kebijakan khusus seperti di pesantren pada umumnya.
Adalah KH. Ma’ruf Irsyad (Alm), sosok ulama alumni Madrasah TBS Kudus yang dituakan di empat madrasah tersebut. Semasa hidupnya, Kiai Ma’ruf mengajar di TBS, Qudsiyah, Banat dan Mu’allimat.
Ada kisah menarik yang dapat kita ambil hikmahnya tentang wirai ulama pengasuh Ponpes Raudlatul Muta’allimin tersebut. H. A. Muttaqin, Waka Kesiswaan MTs NU TBS Kudus menceritakan pernah mengundang ceramah Kiai Ma’ruf dalam sebuah acara di TBS.
Karena masih jam mengajar di Madrasah Muallimat, Muttaqin menjemput Kiai Ma’ruf ke madrasah khusus siswi itu. Sepeda onthel yang biasa dipakai Kiai Ma’ruf ditinggal di madrasah tersebut selama acara.
Usai ceramah, Muttaqin menawarkan kendaraan untuk mengantar pulang ke Kiai Ma’ruf ke rumah. Itu dilakukan agar Kiai tidak repot membawa pulang sepeda yang masih terparkir di Madrasah Mu’allimat itu. Rumah Kiai Ma’ruf di Janggalan memang cukup dekat dengan Madrasah TBS, dan kalau harus ke Mu’allimat dulu mengambil sepeda onthel tentu repot kata Muttaqin.
Tawaran Muttaqin agar sepeda onthel tersebut diambil olehnya, diantar ke rumah, ternyata dijawab oleh Kiai Ma’ruf, “jangan, antar kembali ke Mu’allimat saja. Onthel itu pinjaman saudara saya untuk keperluan saya mengajar. Kalau kamu naiki untuk dikembalikan ke rumah berarti saya meminjamkan barang pinjaman tanpa izin pemiliknya. Repot sedikit tidak apa yang penting tidak dosa”.
Kiai Ma’ruf Irsyad adalah teladan bagi santri menara di Kudus, utamanya di empat madrasah besar tersebut.  Ia tidak mudah meminjamkan barang pinjaman tanpa izin pemiliknya. Allah yarham. (smc-777)

Source: santrimenara.com