Friday, June 17, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 135-137

Views :

Catatan Kecil Pengajian Tafsir Al Qur'an Bulan Ramadhan hari Jumu’ah (17/06/16) Ba'da Shubuh
Oleh: KH. M. Syaroni Ahmadi Kudus

[Surat Al-Baqarah 135-137]
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (135) قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136) فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)
Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Semua nabi agamanya Islam, termasuk juga Nabi Musa dan Nabi Isa. Bukti keislaman Nabi Isa adalah pernyataan pengikut Nabi Isa dalam Q.S. Ali Imran ayat 52:
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (52)
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.”
Kaum Hawariyyin adalah pengikut setia Nabi Isa yang senang menjaga kesucian dan senang memakai pakaian putih-putih.
Ketika rumah Nabi Isa dikepung orang-orang Yahudi. Malaikat turun untuk mengangkat Nabi Isa ke langit. Sempat terjadi tarik ulur antara Maryam dan malaikat Jibril. Akhirnya Maryam merelakan Nabi Isa dibawa malaikat Jibril. Komandan Yahudi masuk ke rumah Nabi Isa dan tidak mendapati siapa pun kecuali Maryam. Anak buahnya tidak sabar dan menyusul komandannya yang lebih dulu masuk. Ketika komandan Yahudi hendak keluar, Allah menyerupakan wajah komandan dengan wajah Nabi Isa. Langsung saja anak buahnya membunuh komandan ketika berpapasan dengannya karena dikira komandan adalah Isa. Sehingga yang dibunuh bukanlah Isa tapi komandan Yahudi. Q.S. An Nisa ayat 157:
...وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ..
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…”
...وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158) وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا (159)
mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. [1] Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.
Nabi Isa besok menjelang hari kiamat akan turun ke bumi selama 7 tahun untuk melaksanakan 3 misi:
1.       Membunuh Dajjal, karena yang mampu membunuh Dajjal saat itu hanya Nabi Isa. Dajjal turun ke bumi sebelum Nabi Isa selama 40 hari. Dia menyatakan dirinya sebagai tuhan. Saat itu sudah ada yang berani menentang Nabi Khidlir tapi Khidlir kalah dan mati di tangan Dajjal karena tidak mau mengakui Dajjal sebagai tuhan. Khidlir dihidupkan lagi oleh Dajjal agar mau mengakui Dajjal sebagai tuhan. Namun Khidlir semakin yakin bahwa orang yang dihadapannya adalah Dajjal dan selamanya ia tidak akan mengakuinya sebagai tuhan. Akhirnya Khidlir mati digergaji. Setelah 40 hari Nabi Isa turun membunuh Dajjal.
2.       Memotong-motong salib dan menyampaikan propaganda bahwa yang disalib bukan dirinya.
3.       Memperjuangkan syariat agama Islam bersama Imam Mahdi.
Nabi Isa ketika dirafa’ usianya 33 tahun. Sesuai dengan keterangan salah satu hadits yang menyatakan bahwa usia Nabi Isa adalah 40 tahun, 33 tahun sebelum dirafa’ dan 7 tahun ketika turun lagi ke bumi. Tahun masehi adalah tahun yang dimulai dari lahirnya nabi Isa. Selama 7 tahun ini Nabi Isa menikah dan dikaruniai 2 anak. Setelah Nabi Isa wafat jenazahnya akan disemayamkan dekat dengan makam Umar bin Khattab.
KH. Sya’roni Ahmadi berkisah seorang mu’allaf dari Australia dan Inggris yang meminta diislamkan di hadapan beliau.  Setelah dituntun mengucapkan syahadat beliau meminta keduanya untuk membaca terjemah surat An Nisa versi bahasa inggris. Keduanya menyatakan setuju terhadap isi ayat ini. Keduanya menceritakan bahwa media di Inggris memberitakan Islam di Indonesia adalah Islam garis keras. Namun setelah datang ke Indonesia ternyata Islam di Indonesia penduduknya ramah.
Karakter Yahudi itu kejam-kejam sebagaimana diterangkan dalam Q.S. Al Ma’idah ayat 82:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Agama selain Islam adalah agama buatan manusia. Q.S. Ali Imran ayat 18:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.

Semoga bisa diterima dan bermanfaat bagi sesama!
FB: Abi Nala Wa Bimbim


[1] Tiap-tiap orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa sebelum wafatnya, bahwa dia adalah Rasulullah, bukan anak Allah.

Thursday, June 16, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 131-134

Views :
Catatan Kecil Pengajian Tafsir Al Qur'an Bulan Ramadhan hari Kamis (16/06/16) Ba'da Shubuh
Oleh: KH. M. Syaroni Ahmadi Kudus

[Surat Al-Baqarah 131-132]
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (131) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
Nabi Ya’qub adalah cucu nabi Ibrahim karena Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.
Yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub telah wasiat kepada keturunannya untuk mengikuti agama Yahudi. Klaim Yahudi ini dibantah oleh ayat berikut. Nabi Ibrahim dan Ya’qub telah berwasiat: “Allah telah memilihkan agama Islam sebagai agama kalian. Barangsiapa memilih agama selain Islam maka tidak diterima. Janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
Agama Yahudi muncul setelah wafatnya Nabi Musa. Kurun Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub adalah sebelum kurun Nabi Musa. Sehingga pada masa Nabi Ibrahim maupun Nabi Ya’qub belum ada Taurat juga belum ada Nabi Musa.
Allah menurunkan 104 kitab. Kitab yang wajib diketahui secara terperinci ada 4 kitab: Taurat (Musa), Zabur (Dawud), Injil (Isa), Al Qur’an (Muhammad SAW). Kitab Taurat dan Injil yang beredar sekarang sudah terjadi perubahan atau tidak original lagi. Yahudi menyatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, Nashrani menyatakan Isa adalah anak Allah (Q.S. At Tawbah: 30). Ketuhanan yang menyimpang dari pengikut kitab Injil sekarang adalah Nabi Isa anak Allah, Nabi Isa adalah raganya Allah itu nyawanya, Nabi Isa, Maryam dan Allah adalah Tritunggal (telu teluning atunggal).
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ الآية [المائدة: 72]
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam"
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ الآية [المائدة: 73]
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga"
Tritunggal adalah 3 unsur Nabi Isa, Maryam, Allah adalah tuhan. Jika demikian  berarti belum ada tuhan ketika Isa belum lahir.
Besok di padang mahsyar kita umat Muhammad menjadi saksi (Q.S. Al Baqarah: 143) ketika Nabi Isa ditanya Allah:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116)
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib."

[Surat Al-Baqarah 133-134]
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133) تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (134)
Adakah kamu hadir ketika Y a'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Penyimpangan tauhid sudah mulai terjadi sejak zaman nabi Nuh. Pada zaman Nabi Nuh ada 5 bersaudara yang sangat rukun dan salah satu dari mereka meninggal. Keempat saudaranya menangis terus menerus merasa kehilangan. Iblis membujuk mereka untuk membuat patung saudaranya yang meninggal dan ditaruh dalam kamar sebagai pengingat saudara mereka. Kemudian disusul satu saudaranya meninggal dan dibuatlah patung. Demikian terus sampai 5 bersaudara tersebut meninggal semua dan meninggalkan 5 patung. Kelima patung ini akhirnya dikeluarkan dari kamar dan menjadi sesembahan orang-orang. Sebagaimana dikisahkan dalam Q.S. Nuh ayat 23-24:
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا (24)
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr."[1] Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.
Hukum membuat patung dan gambar manusia atau makhluk yang bernyawa adalah haram. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا
Barangsiapa membuat gambar maka Allah akan menyiksanya (di akhirat) hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal selamanya ia tidaklah bisa meniupkan ruh padanya. (Shahih Bukhari Juz 7 Hal. 467 Maktabah Syamilah)
Sedangkan foto hukumnya boleh karena foto adalah menangkap bayangan (habs adh dhill) sebagaimana bayangan dalam cermin, bukan menggambar.

Semoga bisa diterima dan bermanfaat bagi sesama!
FB: Abi Nala Wa Bimbim


[1] Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh

Wednesday, June 15, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 127-130

Views :

*Kutipan Pengajian Tafsir Al Qur'an Bulan Ramadhan hari Rabu (15/06/16) Ba'da Shubuh
Oleh: KH. M. Syaroni Ahmadi Kudus

Ulasan keterangan tafsir Q.S. Al Baqarah 125-126 tanggal (14/06/16):
Bangunan Ka’bah setelah terjadinya banjir besar pada zaman Nabi Nuh rusak berat bahkan kerusakannya sampai pada pondasi Ka’bah. Bangunan Ka’bah menjadi tidak terlihat sehingga ada yang berpendapat bahwa nabi-nabi setelah Nabi Nuh sebelum Nabi Ibrahim tidak melaksanakan haji, namun ada yang berpendapat bahwa semua nabi pasti pernah melaksanakan haji melalui bimbingan malaikat Jibril tentang posisi Ka’bah.
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ حَجَّ
“Tiada nabi kecuali ia telah melaksanakan haji.”
Konflik internal rumah tangga Nabi Ibrahim berbuah hikmah
Suatu ketika Sarah istri pertama Nabi Ibrahim merasa cemburu pada Hajar istri muda Nabi Ibrahim, Sarah meminta Nabi Ibrahim agar salah satu anggota tubuh Hajar dilukai dan permintaan Sarah ini pun diikuti Nabi Ibrahim. Atas arahan malaikat Jibril telinga Hajar dilubangi kemudian diberi anting. Sarah justru semakin jengkel karena setelah telinga Hajar dilubangi dan dipasang anting justru semakin tambah kelihatan cantik. Sarah pun minta untuk dilubangi telinganya sebagaimana Hajar. Ketika kandungan Hajar semakin lama semakin membesar maka semakin besar pula kecemburuan Sarah karena saat itu Sarah belum mengandung. Sarah meminta Nabi Ibrahim agar ia dan Hajar dipisah. Nabi Ibrahim pun menuruti permintaan istri pertamanya. Dengan kendaraan buraq Nabi Ibrahim bersama Hajar berangkat dari Baitul Muqaddas menuju Makkah. Di kota Makkah Nabi Ibrahim membangun rumah untuk Hajar (di sekitar sumur zam-zam). Setelah rumahnya jadi Nabi Ibrahim kembali ke Baitul Muqaddas. Sebelum kembali Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ [إبراهيم : 37]
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat Rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Dalam do’a Nabi Ibrahim tersebut antara aduan dan permohonan kelihatan tidak singkron. Aduannya adalah Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya ditempat yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di Baitullah, permohonannya adalah agar keluarganya menjadi orang yang ahli ibadah. Umumnya ketika mendapati tempat yang tidak mempunyai tanaman-tanaman orang akan meminta agar diberi rizqi yang luas, namun Nabi Ibrahim yang diminta pertama kali adalah agar keluarganya menjadi orang yang ahli ibadah. Ketika telah menjadi ahli ibadah Allah akan melimpahkan rizqi yang luas sehingga mereka bisa menjadi orang yang bersyukur. Sebab jika penghuni rumah ahli ibadah maka tamu-tamu yang datang akan ikut menjadi ahli ibadah, demikian sebaliknya.
Do’a Nabi Ibrahim ini baik apabila dilaksanakan bagi siapa saja yang telah selesai membangun rumah dan akan mendiaminya dengan tata cara dibaca 313 kali baik dibaca sendiri atau dibagi dengan orang lain agar keluarga diberi keluasan rizqi.
Dari ibu Hajar dikaruniai seorang putra bernama Ismail. Ketika Nabi Ibrahim datang ke Makkah ia mengajak putranya Ismail yang masih kecil untuk merenovasi bangunan Kabah dengan malaikat Jibril selaku arsiteknya.

[Surat Al-Baqarah 127]
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) pondasi-pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ayat ini memberi pelajaran bagi kita untuk selalu membaca do’a setiap selesai melakukan ibadah apapun baik shalat, puasa atau lainnya agar ibadahnya diterima dengan do’a berikut:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
karena amal yang paling utama adalah amal yang diterima Allah SWT.
Pernah suatu ketika murid Abdullah Ibnu Abbas bertanya kepada Sayyidina Ali ketika Ibnu Abbas telah meninggal; Wahai Ali! Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang ibadah, bulan dan hari yang paling utama. Beliau menjawab ibadah yang paling utama adalah shalat pada awal waktunya, bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling utama adalah hari Jumu'ah. Apakah jawaban beliau benar?Sayyidina Ali menjawab; Setiap orang yang kamu Tanya demikian pasti jawabnya sama seperti jawaban Ibnu Abbas. Beda dengan jawabanku karena bagiku ibadah apapun asal diterima Allah SWT itu adalah ibadah yang paling utama, bulan apapun yang digunakan untuk bertaubat atau meminta maghfirah adalah bulan yang paling utama, dan hari yang paling utama adalah hari apapun yang kamu mati husnul khatimah.

[Surat Al-Baqarah 128-129]
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129)
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
[Surat Al-Baqarah 130]
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (130)
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”
Lafadh مَنْ bermakna nafi (kalimat negatif) yang berarti tidak. Lafadh يَرْغَبُ mempunyai dua makna yang bertentangan yaitu “senang” dan “benci” tergantung huruf jar yang menyertainya. Jika setelahnya berupa huruf jar عَنْ (‘an) sebagaimana ayat di atas maka artinya “benci”. Jika setelahnya berupa huruf jar عَلَى (‘ala) maka artinya "senang”.
Nabi Ibrahim adalah nabi unggulan setelah Nabi Muhammad SAW. Karena manusia paling utama adalah orang Islam, orang Islam yang paling utama adalah yang menjadi nabi, nabi yang paling utama adalah yang menjadi rasul, rasul yang paling utama adalah nabi yang masuk dalam golongan Ulul ‘Azmi dengan keutamaan secara berurut sebagai berikut: 1. Nabi Muhammad SAW 2. Nabi Ibrahim 3. Nabi Musa 4. Nabi Isa 5. Nabi Nuh.
Nabi Nuh masuk dalam golongan Ulul Azmi walaupun hasil dakwahnya tidak begitu besar sebagaimana Nabi Sulaiman yang bisa menundukkan manusia, alam hewan, jin dan setan. Sementara Nabi Sulaiman tidak masuk golongan Ulul Azmi. Hal ini memberi pelajaran kepada kita bahwa Allah tidak menilai dari hasil yang dicapai tapi dari proses. Sehingga ketika kita merasakan berat ibadah yang sedang kita lakukan maka disitulah justru pahala besar diharapkan.
 
Semoga bisa diterima dan bermanfaat bagi sesama!
FB: Abi Nala Wa Bimbim

Tuesday, June 14, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 125-126

Views :

* Kutipan Pengajian Tafsir Al Qur'an Bulan Ramadhan hari Selasa (14/06/16) Ba'da Shubuh
Oleh: KH. M. Syaroni Ahmadi Kudus

Penguatan keterangan tafsir Q.S. Al Baqarah 123-124 tanggal (13/06/16):
Dalil besok di akhirat orang kafir tidak bisa mendapat syafa’at adalah teriakan orang-orang kafir yang iri melihat kerukunan dan saling kasih mengasihi sesama orang mu’min di padang mahsyar dalam Q.S. Asy Syu’ara’ 100-102:
فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (100) وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (101) فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (102)
“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman."
Mari kita jaga kerukunan antar sesama orang mu’min, jangan saling bermusuhan walau pun berbeda-beda agar kerukunan dan saling mengasihi ini langgeng sampai di akhirat nanti.
Ujian perintah khitan kepada nabi Ibrahim adalah ujian berat karena perintah turun saat nabi Ibrahim berusia 80 tahun, dengan alat pemotong kapak. Perintah ini segera dilaksanakan nabi Ibrahim tanpa menunggu lama sehingga nabi Ibrahim dipuji sebagai nabi yang patuh sebagaimana Q.S. An Nahl ayat 120:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali diperintah khitan. Hal ini bukan berarti nabi-nabi sebelumnya tidak khitan, karena diterangkan dalam tafsir Baydhowi bahwa semua nabi khitan kecuali 13 nabi dalam riwayat lain 14 nabi.[1] Adapun 13 nabi tidak khitan karena ketika lahir sudah dalam keadaan dikhitan sebagaimana nabi Adam, Idris, Syis dan nabi berikutnya sampai 13 nabi. Dari keterangan ini bisa diambil sebuah putusan hukum fiqih apabila ada bayi yang terlahir sudah dikhitan maka tidak ada kewajiban khitan maupun kewajiban menempelkan alat pemotong padanya.

[Surat Al-Baqarah 125]
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (125)
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".
Qira’at  Sab’at lafadh وَاتَّخذُوا dibaca: 1). huruf Kha’ berharakat fathah (wattakhadzu) berupa fi’il madhi yang artinya “Dan mereka menjadikan..” 2). huruf Kha’ berharakat kasrah (wattakhidzu) berupa fi’il amar yang artinya “Dan jadikanlah…”.
Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan nabi Ibrahim sebagai landasan ketika merenovasi Ka’bah bukan tempat pemakaman nabi Ibrahim. Bagi jama’ah haji atau umrah yang mendapat kesempatan bisa shalat di Maqam Ibrahim janganlah lama-lama. Berilah kesempatan pada jama’ah yang lain untuk shalat di tempat tersebut, karena member kesempatan pada yang lain juga mendapat pahala yang besar sehingga tidak hanya mendapat pahala shalat di maqam Ibrahim saja tapi juga pahala memberi kesempatan pada orang lain untuk memperolah keutamaan ini. Hal ini juga berlaku untuk keutamaan yang lain seperti keutamaan mencium hajar aswad.
Nabi Ibrahim dan nabi Ismail bukanlah orang yang pertama kali membangun Kabah tapi orang yang merenovasi Kabah sebab Kabah sudah ada sebelum nabi Ibrahim dan bangunan Kabah ini pernah rusak pada zaman nabi Nuh ketika dilanda banjir besar.

[Surat Al-Baqarah 126]
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali"
Qira’at Sab’at Lafadh فَأُمتعُهُ ada yang membaca faumatti’uhu ada yang membaca faumti’uhu.
Do’a nabi Ibrahim setelah renovasi Ka’bah:
1.      Negara Makah dikaruniai aman sentosa dan do’a ini disetujui oleh Allah
2.      Penduduk Makah diberi rizqi dari buah-buahan tapi hanya bagi yang beriman saja.
Pada do’a kedua ini nabi Ibrahim ditegur oleh Allah karena rizqi di dunia bukan monopoli orang yang beriman saja akan tetapi orang kafir juga diberi rizki oleh Allah. Rizqi di dunia itu harganya murah sehingga tidak hanya untuk umat Islam saja juga untuk orang kafir. Bagi jama’ah haji Indonesia ketika di tanah haram Makah sebaiknya berdo’a untuk negara Indonesia “Semoga negara Indonesia dikarunia rasa aman dan sentosa serta penduduknya diberi keluasan rizqi baik untuk muslim maupun untuk orang kafir.”

Semoga bermanfaat!
Abi Nala Wa Bimbim


[1] Nabi-nabi yang terlahir sudah dalam keadaan terkhitan adalah sebagai berikut: 1. Nabi Adam, 2. Nabi Syist, 3. Nabi Nuh, 4. Nabi Hud, 5. Nabi Shalih, 6. Nabi Luth, 7. Nabi Syuaib, 8. Nabi Yusuf, 9. Nabi Musa, 10. Nabi Sulaiman, 11. Nabi Zakaria, 12. Nabi Isa, 13. Nabi Muhammad SAW

Monday, June 13, 2016

KAJIAN SURAT AL BAQARAH AYAT 123-124

Views :
* Kutipan Pengajian Tafsir Al Qur'an Bulan Ramadhan hari Senin (13/06/16) Ba'da Shubuh
Oleh KH. M. Sya'roni Ahmadi Kudus

[Surat Al-Baqarah 123]
وَاتَّقُوا يَوْمًا لاَ تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُونَ (123)
"Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong."
الشفاعة هي سؤال الخير من الغير للغير
Syafaat adalah memintakan kebaikan dari orang lain kepada orang lain.
Yang dimaksud “tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya” di hari akhirat pada ayat ini adalah bagi orang kafir. Sebab saling memberi syafaat bagi orang mu'min itu bisa terjadi baik di dunia maupun di akhirat sedangkan bagi orang kafir saling memberi syafaat hanya terjadi di dunia saja.
Pemberi syafaat bagi umat nabi Muhammad SAW itu banyak, diantaranya syafaat Nabi Muhammad, puasa, al Qur’an, orang alim dan sebagainya.
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Setiap nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi segera menggunakan do’anya. Dan sesungguhnya saya menyimpan do’aku untuk member syafa’at pada umatku di hari kiamat".
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat pada seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka berilah saya izin untuk memberi syafaat padanya. Al Qur’an berkata: Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah izin padaku untuk memberi syafaat padanya. Maka kedua mendapat izin untuk memberikan syafaatnya”.

[Surat Al-Baqarah 124]
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (124)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".
Berat ringan ujian manusia bergantung pada pangkat/derajatnya. Semakin tinggi pangkat manusia maka semakin berat pula ujian yang harus dilaluinya.
Makhluk paling mulia adalah manusia, golongan manusia yang paling mulia adalah kaum nabi Muhammad kemudian kaum nabi Ibrahim, kaum nabi Adam.
Diantara ujian nabi Ibrahim adalah perintah khitan di usia 80 tahun, perintah menyembelih Ismail putranya, dibakar oleh raja Namrud dan banyak versi tafsir lainnya. Setelah nabi Ibrahim menunaikan ujiannya maka Allah memberi kompensasi kelulusan ujiannya yaitu menjadikan Ibrahim sebagai imam bagi seluruh manusia. Nabi Ibrahim memohon pada Allah “Walaupun yang telah lulus menunaikan ujian adalah saya semoga keturunan saya juga bisa menjadi pimpinan.” Do’a nabi Ibrahim akhirnya dikabulkan juga untuk keturunannya kecuali bagi orang-orang yang zalim.
Ayat ini memberi pelajaran penting ketika berdoa agar tidak untuk diri sendiri tapi menyertakan juga anggota keluarganya dalam do’a.
Semoga bermanfaat!